Yogyakarta, 9 Maret 2026 – Arus globalisasi di sektor pendidikan tinggi kerap kali membawa kekhawatiran tersendiri, khususnya terkait potensi lunturnya nilai-nilai lokal, budaya, dan spiritual pada institusi pendidikan. Namun, dengan strategi dan pijakan yang tepat, tantangan tersebut justru dapat diubah menjadi peluang emas untuk menyebarkan nilai-nilai kearifan lokal ke panggung dunia. Kesadaran inilah yang mengemuka dengan kuat dalam ujian tesis mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Raka Fadel Devarsa Pahlawan, pada Jumat (6/3) lalu.
SDG 16: Perdamaian
Yogyakarta, 9 Maret 2026 – Menjawab tantangan globalisasi pendidikan, Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT) Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan pemikiran segar dalam bidang manajemen pendidikan melalui ujian tesis mahasiswa Program Pascasarjana (PMU) atas nama Raka Fadel Devarsa Pahlawan. Dalam sidang yang berlangsung secara daring pada Jumat (6/3/2026), Raka memaparkan hasil penelitian mendalamnya mengenai strategi internasionalisasi pada institusi pendidikan berbasis pesantren.
Tesis yang berjudul “Strategi Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Islam Berbasis Pesantren: Perspektif, Implikasi Nilai, dan Mitigasi Westernisasi” ini menjadi momentum penting bagi perjalanan akademik Raka. Di hadapan dewan penguji, ia menyoroti bagaimana Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) harus mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri spiritualnya. Terlebih PTAI berbasis pesantren yang memiliki corak pendidikan 24 jam yang khas.
Yogyakarta, 6 Februari 2026 – Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada kembali menggelar agenda akademik Seminar Proposal Tesis pada Senin (2/2) bertempat di Ruang Sidang C Lantai 5 Unit 1 Sayap Timur SPs UGM. Dalam kesempatan ini, Fuad Khalis Mahmud memaparkan rencana penelitiannya yang berjudul “Studi Kasus Komparatif Navigasi Dilema Pengungkapan Diri Disabilitas Tersembunyi dalam Mengakses Akomodasi yang Layak di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Brawijaya”. Kegiatan ini didampingi oleh tim pembimbing yang terdiri dari Dr. Ir. Johanes Pramana Gentur Sutapa, M.Sc.Forest.Trop. dan Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., yang memberikan masukan konstruktif untuk memperkuat metodologi studi kasus komparatif yang diusung.
Yogyakarta, 9 September 2025 – Perguruan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan serius dalam persaingan global akibat kuatnya tradisi lisan dalam transfer pengetahuan, yang berbenturan dengan tuntutan publikasi ilmiah sebagai standar kualitas akademik internasional. Akibatnya, banyak kontribusi intelektual dosen yang mumpuni tidak terdokumentasi dan tidak terukur di panggung dunia.
Isu krusial ini menjadi sorotan utama dalam perkuliahan Teori Manajemen dan Kepemimpinan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P., pada Selasa (9/9/2025). Menurutnya, tanpa reformasi sistemik, perguruan tinggi Indonesia berisiko terus tertinggal karena kontribusi akademiknya tidak terlihat di mata dunia internasional. “Kita memiliki banyak dosen dengan pengetahuan mendalam, namun budaya lisan membuat kekayaan intelektual itu seringkali berhenti di ruang kelas,” ujar Prof. Wahyudi. “Padahal, indikator utama pemeringkatan universitas dunia seperti QS dan THE sangat bergantung pada publikasi dan sitasi.”