YOGYAKARTA, 5 Oktober 2026 – Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM), menggelar Seminar Proposal Tesis secara hybrid pada Senin (5/10/2026) mulai pukul 13.00 WIB bertempat di Ruang Sidang B Lantai 5 Unit 1 Sayap Timur SPs UGM dan jaringan daring Google Meet.
Dalam forum tersebut, mahasiswa MMPT UGM, Dinda Cintya Desyana (NIM: 25/558824/PMU/12278), memaparkan rencana riset tesisnya yang berjudul “Analisis Faktor Ketidakselarasan Pendidikan dan Pekerjaan (Horizontal Mismatch) Pada Alumni Perguruan Tinggi Di Provinsi Riau”. Seminar proposal ini diuji dan dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Zuprizal, DEA., IPU., ASEAN Eng. selaku Pembimbing I dan Dr. Ratminto, M.Pol.Admin. selaku Pembimbing II, serta dihadiri oleh jajaran dosen dan mahasiswa aktif MMPT di bawah kepemimpinan Ketua Program Studi, Prof. Ir. Paulus Insap Santosa, M.Sc., Ph.D., IPU.
Pemaparan tersebut menyoroti bahwa partisipasi masyarakat Indonesia dalam menempuh pendidikan tinggi menunjukkan tren peningkatan signifikan selama satu dekade terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026 mencatat persentase penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi mencapai 11% pada tahun 2025, meningkat 0,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ekspansi akses pendidikan tinggi ini belum sepenuhnya diiringi oleh keselarasan antara bidang studi yang dipelajari dan jenis pekerjaan yang diperoleh di pasar kerja.
Fenomena ketidakselarasan bidang studi atau horizontal mismatch masih tergolong tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), tingkat kejadian horizontal mismatch berada pada angka 60,52% (Sakernas 2015), 33,50% (Sakernas 2022), dan 31,73% (Sakernas 2023). Horizontal mismatch tidak hanya berdampak secara finansial melalui risiko penalti upah dan penurunan pendapatan, tetapi juga memicu efek domino psikologis bagi tenaga kerja. Pekerja yang berada pada bidang tidak selaras cenderung mengalami job stress dan risiko burnout karena harus beradaptasi keras dengan tuntutan tugas yang asing, yang pada akhirnya menurunkan kepuasan kerja serta kesejahteraan pekerja (employee well-being).
Penelitian ini mengambil lokasi di Provinsi Riau. Riau dipilih karena memiliki proporsi tenaga kerja berpendidikan tinggi yang tergolong besar di Indonesia (berkisar 10–11% dari total angkatan kerja), namun kajian mismatch tingkat daerah masih sangat terbatas karena mayoritas penelitian terdahulu menggunakan data agregat skala nasional. Berbeda dengan studi terdahulu yang berfokus pada faktor individu atau kondisi ekonomi makro, riset ini menitikberatkan pada faktor-faktor kelembagaan (institutional factors) yang berada di bawah kendali langsung perguruan tinggi, seperti relevansi kurikulum, pengalaman magang, layanan pusat karier, dan kemitraan industri.
Dalam kerangka teoritisnya, peneliti mengintegrasikan dua teori utama, yaitu Human Capital Theory (Becker, 1964) sebagai grand theory, yang menjelaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan bentuk investasi kualitas sumber daya manusia baik melalui general training maupun specific training, serta Assignment Theory (Sattinger, 1993) sebagai teori pendukung yang menjelaskan proses pencocokan (matching process) antara karakteristik individu alumni dengan kriteria pekerjaan di pasar kerja.
Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode explanatory survey. Pengumpulan data dilaksanakan pada Agustus 2026 hingga Januari 2027 menggunakan teknik purposive sampling sesuai pedoman rule of thumb. Instrumen kuesioner disusun menggunakan Skala Likert 4 Poin (forced choice) untuk menghindari kecenderungan pemusatan jawaban. Selanjutnya, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis Regresi Logistik Biner melalui Uji Wald (parsial) dan Uji Omnibus (simultan) dengan bantuan SPSS.
Penulis: Hilmi
Editor: Berlian Belasuni