Tentang UGM
IT Center
Perpustakaan
Penelitian
Webmail

Dean-Course Leadership Program

Oleh Admin
10
Apr
2014
Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
Menyelenggarakan: Dean-Course Leadership Program Using Blended Learning Approach for 25 Higher Education Institutios
under USAID Program 2014

April – Juni 2014



Pengantar

Bagaimana hubungan antara Dekan dengan para Dosen? Apakah Dekan atasan (boss) para dosen: Ataukah dekan sebagai “pelayan bagi dosen”.

Sebagaimana kita ketahui Dekan adalah pemimpin struktural yang harus diikuti oleh dosen seperti yang sudah diatur dalam  tata kelola kelembagaan (governance) universitas. Dekan mempunyai otoritas tertentu dan harus mempunyai kompetensi manajerial dan juga reputasi keilmuan.

Dalam konteks Dekan sebagai pemimpin structural, dan dosen yang dipimpinnya perlu ada pemahaman yang filosofis. Di berbagai lembaga ada perbedaan model kepemimpinan. Minimal ada beberapa tipe lembaga berdasarkan jenis pemimpin dan yang dipimpin:

  1. Lembaga yang pemimpinnya digambarkan di puncak dengan bawahan yang benar-benar diletakkan di bawah. Lembaga ini bersifat hirarki seperti di birokrasi pemerintah, militer, ataupun di perbankan.
  2. Lembaga yang fungsinya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan atau menggunakan ilmu dan skill. Contohnya adalah rumahsakit, universitas, lembaga penelitian, ataupun lembaga konsultan. Dalam lembaga ini, pimpinannya sering digambar di bawah untuk mendukung para pemegang ilmu yang menentukan kinerja lembaganya. Di kelompok ini pendapatan seorang dosen atau  peneliti mungkin lebih tinggi dibanding dekan, karena  memegang paten atau sangat dibutuhkan masyarakat. Di RS, pendapatan seorang dokter spesialis dapat jauh lebih besar dibanding direkturnya.
  3. Lembaga seniman seperti Srimulat, atau seni tari. Pemimpinnya di sini benar-benar mungkin harus menjadi pelayan . Kalau tidak senimannya akan lari, pindah ke tempat lain.


Perguruan tinggi merupakan lembaga yang mirip dengan RS, yang mempunyai misi pendidikan, penelitian, dan pengabdian berbasis pada keilmuan yang ada.

Dalam hal ini dosen atau sebagian dosen adalah pemimpin  keilmuan. Hal ini terjadi karena lembaga universitas adalah lembaga ilmu pengetahuan, bukan lembaga birokrasi atau pabrik.

Dosen bukan “rakyat” di fakultas. Sayangnya di berbagai universitas ada pilihan dekan yang mirip pilihan kepala daerah (pilkada) karena  menempatkan dosen sebagai rakyat pemilih. 

Mengapa dosen bukan rakyat di lembaganya? Dosen dapat menjadi pemimpin di habitat atau bidang ilmunya.  Sebagian dosen tulisannya dikutip banyak pihak, penelitiannya dipergunakan secara luas, patennya menjadi produk yang berguna bagi masyarakat. Kinerja universitas ditentukan oleh kinerja pribadi-pribadi dosen. Dosen dapat mempunyai follower yang menyebar di seluruh Indonesia atau dunia.

DI berbagai kampus luarnegeri, Dekan hanya satu (tentunya) selama puluhan tahun, tapi dosen yang pemimpin (punya  follower keilmuan) dapat banyak sekali.  Jadi ada situasi unik untuk Dekan:

Dekan adalah pemimpin yang mendukung pemimpin lain

Dekan bukan pelayan, karena juga mempunyai otoritas untuk menegur dosen yang “nakal”. Dosen sebagai pemimpin ilmu harus tunduk pada aturan main yang ditetapkan oleh lembaga dan dipimpin. Kalau tidak akan terjadi anarkisme di kampus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Dekan bukanlah “boss” untuk dosen lainnya, namun juga bukan “pelayan” untuk dosen lainnya.

Masalah apa yang terjadi saat ini dalam  hubungan Dekan dengan Dosen di Indonesia?

Berbagai masalah yang ada:

Politik di Kampus

Sifat supportive Dekanat ini yang masih kurang terjamin ketika pemilihan Dekan bersifat seperti pilkada. Dosen dianggap sebagai rakyat.  Didekati saat kampanye, dan ditinggalkan ketika sudah kembali ke situasi biasa. Dekan yang terpilih dapat  berperilaku seperti bupati yang beranggapan Suara Rakyat (Pemilih) adalah Suara Tuhan (Vox populi vox dei), apalagi kalau Senat Akademik tidak jelas peranannya dalam mengawasi dekanat.  Ketika musim pemilihan dekan berlalu, maka bisa saja dosen kembali seperti rakyat yang fasilitasnya menyedihkan.

Fasilitas untuk Dosen yang buruk

Sampai sekarang  masih terlihat di perguruan tinggi negeri, seorang Professor ruang kerjanya masih kubikel. Dalam hal ini beberapa Dekan tidak perduli dengan situasi ini. Di sebuah fakultas, dosen harus mencari sendiri ruang kerjanya walaupun kinerjanya produktif. Kalau beruntung dapat ruangan kerja sendiri. Kalau tidak, akan duduk bersama rekan-rekannya di sebuah ruang besar seperti kantor kecamatan. Bagaimana dosen dapat produktif kalau seperti ini. Di sebuah perguruan tinggi di Swedia, besarnya bagian dan ruang kerja dosen tergantung pada produktifitas penelitian, penulisan, dan research grant. DI Indonesia, dosen yang mempunyai ruangan kerja besar hanya yang berada di structural.

Ketidak seimbangan minat menjadi dosen sampai pensiun

Saat ini terjadi ketidak seimbangan antara dosen yang berminat untuk menjadi pemimpin keilmuan dan yang ingin menjadi pemimpin structural. Keinginan dan pengembangan menjadi pemimpin structural (dekanat/rektorat) tinggi dan didukung oleh fasilitas memadai.

Lebih jauh lagi, dan hal ini dapat mengurangi kekuatan akademik adalah brain drain dosen-dosen terkemuka perguruan tinggi ke posisi eksekutif di luar universitasnya, sebagai birokrat, pemimpin partai politik, anggota legislative, anggota Komisi, sampai ke lembaga-lembaga swasta. Pihak luar universitas berusaha keras menarik dosen-dosen perguruan tinggi.

Sebagian dosen pindah bekerja ke luar universitas ketika mencapai usia emas (sekitar 45 -55 tahun) dan sudah bergelar Professor. Sebagian ada yang meniti karir ganda, di dalam universitas dan di luar universitas sehingga mirip sebagai dosen part-timer.  Sementara itu minat untuk menjadi pemimpin keilmuan, boleh dikata minim.

Akibatnya, pengamatan di berbagai perguruan tinggi memperlihatkan bahwa  konsep mengenai pemimpin fakultas hanyalah terbtas pada pemimpin struktural (menjadi dekan). Konsep pemimpin keilmuan tidak ada ataupun sangat minimalis. Padahal patut dicatat bahwa indicator kinerja perguruan tinggi ditentukan oleh dosen yang mempunyai ciri pemimpin keilmuan.

Situasi ini menjadi masalah bangsa kita.

Tujuan:

1.  Memahami Kepemimpinan Ilmuwan

2.  Memahami apa yang disebut sebagai Kepemimpinan Dekan yang Supportif

3.  Memahami berbagai Kebijakan yang mendukung Kepemimpinan ilmuwan

4.  Mampu melakukan diagnosis situasi kepemimpinan ilmuwan di tempat masing-masing dan melakukan rencana pengembangan